Alfied’s Weblog
all about my worldArsip Penulis
Materialis!
Hari ke-15
Materialis. Aku tak suka itu. Memang, sebagian mengatakan bahwa materialis adalah hak setiap perempuan. Tapi, apa tak pernah belajar, bahwa materi hanya akan membuat semua buta? Bahkan lebih dari sekedar buta.
Hari ini, aku mendapatinya kembali menebar aroma itu. Aroma materialis yang amat busuk!
Mawar Hari Ini
Hari ke-8
Hari ini lebih baik. Seperti sejumput rumput untuk ternak, hijau dan segar. Dan seperti mahkota mawar, merah marun dan memesona.
Aku suka aroma ini. Seperti bebas dari belenggu kealpaan. Dan lepas dari jerat rutinitas yang menjemukan.
Tak Lebih Penting dari ‘Orang Lain’
Hari ke-7
Hari ini benar-benar membuatku gerah, dan lelah tentu. Betapa tidak, ribuan dari semua pilihan kata-kata terbaik telah aku sampaikan. Darinya tersusun beberapa nasihat yang bila lapang hati menerimanya amat beruntung bagi pendengar.
Tapi, memang inilah mungkin yang harus aku terima. Tercecer seperti semua kata-kataku, atau bahkan terbuang seperti rangkaian kalimatku.
Tak digubris. Sakit memang. Tapi lebih sakit bila semua rangkaian kalimat itu tadi, tak lebih dipedulikan dari pada sejumput kalimat ‘orang lain’.
Menghargai dan Menghormati
Momen pertama, hari ke-3
Aku kembali belajar. Kali ini tentang menghargai dan menghormati. Hal yang tak pernah dapat lepas dari hidup, kelangsungannya, keberadaannya. Semua padu dan tak dapat lepas.
Seperti Oksigen
Momen ke-4, hari ke-2
Aku belajar dari nafasku sendiri. Bahwa dibutuhkan itu lebih sulit dari pada membutuhkan. Karena di sana tentu terselip tanggung jawab.
Egois kadang, membiarkan ribuan orang menunggu hanya untuk sepatah kata. Karena sama saja kita membiarkan mereka berhenti bernafas. Sebab kata adalah oksigen pembuka kehidupan yang semua orang butuh. Diam memang baik, tapi berbicara itu jauh lebih menyenangkan. Seperti oksigen.
Belajar dari Garam
Momen ke-3, hari ke-2
Sedikit garam kadang dapat berpengaruh besar terhadap subjek yang dikenainya.Kopi yang pahit, menjadi gurih karena garam. Buah mangga menjadi berkurang asam karena sedikit garam juga.
Ini hanya soal selera. Apakah garam menjadi begitu penting, ataukah hanya sekedar pelengkap saja. Seperti hidup, garam adalah masa lalu berupa pengalaman. Apakah memilih belajar dari ‘garam’ kehidupan, ataukah hanya mengabaikannya.
Sekali lagi, ini hanya soal selera.
Hari ke-2 (2)
Momen ke-2, – pada hari ke-2
Cukup segar juga. Menikmati pemandanan hitam-putih.
Yah, kadang terlihat seolah-olah hidup, walau sebenarnya hanya stagnan.
Sekali lagi, inilah hidup. . .
Hari ke-2
Kamis, 3 Desember
Hari ke-2 aku mulai mengawali langkah-langkah baru.
Bulan ini, mendekati akhir dari seluruh momen di tahun ini. Banyak sebenarnya yang aku tak pernah mau lepas. Tapi awal baru harus mengikis yang telah lalu. Dan yang lalu akan benar-benar terpendam. Bisa jadi akan sulit ditemukan, atau bahkan hilang sama sekali.
Hari ini dan Selanjutnya
Masa ini akan segera usai. Harapan dan cita-cita semakin dekat saja rasanya.
Aku sadar, aku tak berlari seperti yang semua orang lain lakukan. Langkah ini terlalu lambat, atau bahkan hampir tak bergerak sama sekali. Aku harap, langkah ini akan kembali tegap dan mantap. Karena tentu, bukan hanya dunia saja yang harus aku jemput, tapi kebahagiaan menatap wajah-Nya dan kenikmatan hidup berdekatan bersama rasul-Nya.
Hari ini, aku memiliki semua mimpi dan harapan. Aku masih bernafas dan berpijak, sedikit bergerak dan melangkah. Aku bahagia dengan hidupku. Walau tak pernah ada kesempurnaan di dalamnya, aku tetap bahagia. Hidupku, adalah yang terbaik yang pernah aku rasakan. Tak ada satupun yang berhak menghinanya, karena ini adalah pemberian Rabb-ku. Hanya Rabb-ku yang berhak atas semua ini. Bahkan aku pun tak berhak sama sekali. Takdir, ketentuan dan semua ketetapan-Nya, aku yakin bahwa itulah yang terbaik untuk aku, untuk semua makhluk-Nya.
Bila saatnya tiba, aku harap semua telah berjalan sesuai porosnya. Tak ada air mata dan duka. Karena suatu saat, pasti akan ada kehidupan yang sebenarnya. Kehidupan akhirat, kehidupan yang abadi dan nyata. Dan hingga saat itu tiba, tentu akan ada penantian. Aku yakin, setiap orang tak suka menunggu. Tapi, aku harap kesabaran tetap meliputi.
Tetaplah melangkah, dan jangan pernah berhenti. Teruslah berharap, karena dengan harapan itulah bahan bakar hidup terus ada.
Rabu, 2 Desember 2009
C. Banin Al Fida
Suatu hari. . .
Ah, judul yang terlalu kalsik untuk dibicarakan. Seperti bunda kita dulu semasa kecil yang mendongengkan suatu kisah untuk kita sebelum tidur. Selalu saja diawali dengan kata itu. Suatu hari dapat berarti masa lampau atau bahkan tentang masa depan. Dan selalu dapat dikaitkan dengan apapun dalam kehidupa kita.
Suatu hari saat kita masih dalam pelukan hangat sang Bunda. Saat kita menangis dan merintih namun sama sekali belum dapat mengucap sepatahkata pun. Mungkin Bunda tersenyum hangat pada kita, haru melihat tingkah kita yang hanya dapat menangis dan menangis. Lalu beliau memberikan apa yang kita mau saat itu. Betapa cinta Bunda kepada kita amat dalam. Dan kebanyakan dari kita mungkin tak menyadarinya. Sungguh, suatu hari yang amat indah. Entah, telah berapa lama kisah kita terkubur (belasan atau bahkan puluhan tahun).
Suatu hari ketika kita menikmati hari pagi yang cerah, di sambut secangkir kopi hangat dari istri tercinta. Lalu duduk bersama dan bercengkrama tentang anak-anak kita. Pagi itu amat indah,- mentari yang terasa hangat, ada pula alunan musik ‘kalsik’ yang terdengar lembut di telinga kita. Sambil bercengrama, kita lihat tawa bahagia dari wajah-wajah lembut anak-anak kita.
Indah memang yang ada dalam benak kita. Tapi bukan berarti Tuhan dengan gampang akan memberikan semua itu. Paling tidak, di sana harus ada usaha. Apa pun itu, keras atau ringan usaha yang kita lakukan akan berpengaruh pada masa depan kita kelak. Dan jika Tuhan mengizinkan apa yang selama ini kita impikan tercapai, tetap simpan semua kisah yang menemani perjalanan kita.
