Mengais Kembali

Lama sekali sepertinya. Ketika bersua dengan mereka, sepertinya aku merasa telanjang bahkan seperti tanpa kulit. Mata ini seolah melepuh memandang kearifan yang mereka pancarkan. Aku seperti terasing dari dunia yang dahulu pernah aku berjuang di dalamnya. Lebih seperti aku telah melupakan massa dimana segalanya kuperjuangkan dengan kearifan. Mengutamakan kehidupan akhirat lebih segalanya dari kefanaan duniawi.

Sobat, seandainya kalian tetap dekat seperti kita dikala menikmati manisnya iman lebih dari kenikmatan mencicipi madu. Seandainya nafsu ini tidak merajai diri dan melumpuhkan segalanya tentang kehidupan hakiki. Aku hanya coba kembali mengais, sobat. Mengais jejak manis semanis madu dari sisa keimanan yang masih kumiliki.

Sobat, seperti cerita lalu yang pernah kau perdengarkan. Aku mencoba mengingatnya. Dikala tidak ada bacaan yang lebih indah dari keelokan Al-Qur’an. Dikala tidak ada petuah yang lebih didengar dari petuah Nabiyullah Muhammad. Disaat malam yang sibuk dengan kemesraan kita pada-Nya. Di waktu subuh yang senyap saat banyak manusia terlelap, kita bertingkah melipat lengan sebahu untuk berwudhu.

Duhai sobat. Aku ingin kembali bersama menapaki jalan hakiki. Merengkuh ke-Ridhoan-Nya. Menuai kisah yang indah dikala mata harus terpejam menunggu hari kebangkitan.

Sobat, bantulah kawanmu mengais kembali.

~ oleh Alfied pada Juli 26, 2011.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.