Aku menyadari sepenuhnya tentang diriku. Ini jujur dan aku benar-benar mengakuinya. Aku bukan manusia yang layak untuk dipuja, tak pantas untuk dielu-elukan. Bukan karena semua kebiadaban yang pernah ku perbuat, tapi ini murni karena ketidakpantasan yang sudah melekat dan tak dapat terelakkan dari diriku.
Aku sadar aku terlalu terobsesi untuk menjadi pusat perhatian. Ini salah, aku terlalu munafik dengan keadaanku.
Dalam kondisi itu, aku berusaha melupakan semua kelemahan yang ada pada diriku. Aku menghabiskan waktu hanya untuk mengasah kemampuanku, tanpa sedikitpun berpikir tentang kelemahan yang ada.
Dan semua itu justru membuat aku kehilangan semuanya. Bahkan kehilangan semangat hidupku. Aku terseret dalam jurang keraguan,-amat dalam. Aku kembali bimbang soal bagaimana kelanjutan hidupku. Aku tak dapat meski hanya sekedar menerka ‘kemana arah yang akan aku ambil?’.
Warna kehidupanku mulai memudar. Sesaat bahkan pernah terasa begitu hampa. Entah apa itu, tapi aku merasa ada yang hilang dari kesehariaanku.
Apakah yang hilang itu adalah ‘persahabatan’? Ataukah hal lain yang aku sendiri tak pernah dapat menerkanya. Tapi, apapun itu aku hanya dapat berharap. Semoga aku dapat mengembalikan warna hidupku, segera.
Karena aku tak ingin terpuruk lebih lama lagi. Aku harus bangkit. Harus!
Boyolali – July 26, 2008
[di saat kehampaan menguasaiku]