•Juli 26, 2011 •
Tinggalkan sebuah Komentar
Lama sekali sepertinya. Ketika bersua dengan mereka, sepertinya aku merasa telanjang bahkan seperti tanpa kulit. Mata ini seolah melepuh memandang kearifan yang mereka pancarkan. Aku seperti terasing dari dunia yang dahulu pernah aku berjuang di dalamnya. Lebih seperti aku telah melupakan massa dimana segalanya kuperjuangkan dengan kearifan. Mengutamakan kehidupan akhirat lebih segalanya dari kefanaan duniawi.
Sobat, seandainya kalian tetap dekat seperti kita dikala menikmati manisnya iman lebih dari kenikmatan mencicipi madu. Seandainya nafsu ini tidak merajai diri dan melumpuhkan segalanya tentang kehidupan hakiki. Aku hanya coba kembali mengais, sobat. Mengais jejak manis semanis madu dari sisa keimanan yang masih kumiliki.
Sobat, seperti cerita lalu yang pernah kau perdengarkan. Aku mencoba mengingatnya. Dikala tidak ada bacaan yang lebih indah dari keelokan Al-Qur’an. Dikala tidak ada petuah yang lebih didengar dari petuah Nabiyullah Muhammad. Disaat malam yang sibuk dengan kemesraan kita pada-Nya. Di waktu subuh yang senyap saat banyak manusia terlelap, kita bertingkah melipat lengan sebahu untuk berwudhu.
Duhai sobat. Aku ingin kembali bersama menapaki jalan hakiki. Merengkuh ke-Ridhoan-Nya. Menuai kisah yang indah dikala mata harus terpejam menunggu hari kebangkitan.
Sobat, bantulah kawanmu mengais kembali.
Ditulis dalam My notes
•Desember 3, 2010 •
Tinggalkan sebuah Komentar
Semua sudah diputuskan. Aku akan terus maju, menyikapi semua dengan tegar. Harus tanpa air mata. Aku sudah berkemas dan siap pergi sejauh angin membawaku.
Perjalanan sudah dimulai.
Ditulis dalam Uncategorized
•Desember 3, 2010 •
Tinggalkan sebuah Komentar
Ruangan seakan vakum -hampa tanpa udara- dan semua berkas cahaya memudar, dan akhirnya hilang. Sejak itu seakan aku tak beranjak dari kegelapan. Terus ada di sana. Sepertinya sia saja berharap datangnya cahaya. Matahari sepertinya berhenti bergerak, atau malah bumi yang berhenti berputar. Stagnan. Waktu berjalan terbalik, ruang-ruang menyempit, kemudian memanjang. Sepertinya di padang pasir sekarang ditumbuhi rumput. Semua menyalahi aturan alam. Udara menipis. Semua benda melayang-layang. Tapi aku tetap diam di tempat, tak bergerak.
Ditulis dalam Uncategorized
•Desember 2, 2010 •
Tinggalkan sebuah Komentar
Cerita yang berawal indah, belum tentu akan berakhir dengan indah. Itulah takdir. Dan kebanyakan manusia menyikapi itu dengan penyesalan.
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Semua, lembar-lembar ini, cerita ini yang masih belum rampung. Ya, karena semua yang berawal indah, belum tentu akan berakhir lebih bahagia. Tapi selalu masih ada harapan, sekecil apapun itu. Dan cerita ini tak lagi harus tertulis dengan bercak noda yang tertinggal. Suatu saat, cerita ini -semoga- akan tertulis dengan tanpa meninggalkan noda.
Suatu saat. Semua ini belum berakhir. Dan cerita masih akan berlanjut. Semoga.
Ditulis dalam My notes
•Desember 9, 2009 •
Tinggalkan sebuah Komentar
Hari ke-8
Hari ini lebih baik. Seperti sejumput rumput untuk ternak, hijau dan segar. Dan seperti mahkota mawar, merah marun dan memesona.
Aku suka aroma ini. Seperti bebas dari belenggu kealpaan. Dan lepas dari jerat rutinitas yang menjemukan.
Ditulis dalam My notes
Tag: hari, hari ini, mawar
•Desember 8, 2009 •
Tinggalkan sebuah Komentar
Hari ke-7
Hari ini benar-benar membuatku gerah, dan lelah tentu. Betapa tidak, ribuan dari semua pilihan kata-kata terbaik telah aku sampaikan. Darinya tersusun beberapa nasihat yang bila lapang hati menerimanya amat beruntung bagi pendengar.
Tapi, memang inilah mungkin yang harus aku terima. Tercecer seperti semua kata-kataku, atau bahkan terbuang seperti rangkaian kalimatku.
Tak digubris. Sakit memang. Tapi lebih sakit bila semua rangkaian kalimat itu tadi, tak lebih dipedulikan dari pada sejumput kalimat ‘orang lain’.
Ditulis dalam My notes
Tag: tak lebih, tak penting
•Desember 4, 2009 •
Tinggalkan sebuah Komentar
Momen pertama, hari ke-3
Aku kembali belajar. Kali ini tentang menghargai dan menghormati. Hal yang tak pernah dapat lepas dari hidup, kelangsungannya, keberadaannya. Semua padu dan tak dapat lepas.
Ditulis dalam My notes
Tag: menghargai, menghormati
•Desember 3, 2009 •
Tinggalkan sebuah Komentar
Momen ke-4, hari ke-2
Aku belajar dari nafasku sendiri. Bahwa dibutuhkan itu lebih sulit dari pada membutuhkan. Karena di sana tentu terselip tanggung jawab.
Egois kadang, membiarkan ribuan orang menunggu hanya untuk sepatah kata. Karena sama saja kita membiarkan mereka berhenti bernafas. Sebab kata adalah oksigen pembuka kehidupan yang semua orang butuh. Diam memang baik, tapi berbicara itu jauh lebih menyenangkan. Seperti oksigen.
Ditulis dalam My notes
Tag: belajar, oksigen, seperti
•Desember 3, 2009 •
Tinggalkan sebuah Komentar
Momen ke-3, hari ke-2
Sedikit garam kadang dapat berpengaruh besar terhadap subjek yang dikenainya.Kopi yang pahit, menjadi gurih karena garam. Buah mangga menjadi berkurang asam karena sedikit garam juga.
Ini hanya soal selera. Apakah garam menjadi begitu penting, ataukah hanya sekedar pelengkap saja. Seperti hidup, garam adalah masa lalu berupa pengalaman. Apakah memilih belajar dari ‘garam’ kehidupan, ataukah hanya mengabaikannya.
Sekali lagi, ini hanya soal selera.
Ditulis dalam My notes
Tag: belajar, garam
•Desember 3, 2009 •
Tinggalkan sebuah Komentar
Momen ke-2, – pada hari ke-2
Cukup segar juga. Menikmati pemandanan hitam-putih.
Yah, kadang terlihat seolah-olah hidup, walau sebenarnya hanya stagnan.
Sekali lagi, inilah hidup. . .
Ditulis dalam My notes
Tag: 2, hari, hari ke-2, momen
Komentar Kamu