Alfied’s Weblog

Maret 25, 2009

For a LongTime. . .

Diarsipkan di bawah: My notes — Alfied @ 1:05 pm

Duh, udah berapa lamayah aku gak posting di mari. Rasanya kengen juga ama suasana dunia maya. Sebenernya sring ci ngenet, cuma paling-paling low ga c8 ya cuma buka-buka forum ajah. Sibuk di facebook. . .haha.
Kaya kata pepatah, teman baru datang, teman lama masuk tong sampah :-D

Agustus 23, 2008

Tentang dia…

Diarsipkan di bawah: My notes — Tag:, , , — Alfied @ 11:56 pm

Sebenernya deep inside my hearth, aku masih ragu untuk mencintainya. Kita jauh dipisahkan dinding sedalam bumi setinggi langit. Tapi apa daya, aku benar-benar tak sanggup untuk menolak cinta itu. Karena begitu dalam menusuk, aku benar-benar tak sanggup untuk mencabutnya kembali.
Selayaknya manusia ber-Tuhan, tentu aku harus sanggup menerima semua perbedaan itu. Aku harus belajar dari semua yang dulu pernah kualami. Aku tak inggin untuk kesekian kali menerima kekecewaan.
Aku tau dia begitu mirip dengan ku. Dari matanya, aku dapat membaca garis kehidupan yang pernah ia jalani. Meski ada satu kesamaan yang membuat aku pedih. Tapi, aku tau itulah takdir kehidupan kita.
Aku mencintai semua kekurangannya diatas kelebihan dan kesempurnaannya.
Dari tatapan matanya yang benar-benar menghargai aku, amat mencintai aku. Dia amat sempurna bagiku. Kesempurnaan yang tak pernah aku temukan dari perempuan manapun. Tentu kecuali tak akan sebanding dengan Bunda. Tapi, kesempurnaan hati dan ketulusan cintanya yang membuat aku begitu sulit jika hendak membiarkannya pergi begitu saja.
Mungkin, ’seandainya’ tak ada ‘dinding pembatas’ itu, aku tak sedikitpun meragukannya. Tapi, apapun yang akan terjadi kemudian, aku siap. Takdir itu pasti, tapi manusia masih punya ‘hak’ untuk mengubah semuanya.

Juli 31, 2008

Suatu hari. . .

Diarsipkan di bawah: My notes — Tag:, , , , — Alfied @ 4:01 pm

Ah, judul yang terlalu kalsik untuk dibicarakan. Seperti bunda kita dulu semasa kecil yang mendongengkan suatu kisah untuk kita sebelum tidur. Selalu saja diawali dengan kata itu. Suatu hari dapat berarti masa lampau atau bahkan tentang masa depan. Dan selalu dapat dikaitkan dengan apapun dalam kehidupa kita.

Suatu hari saat kita masih dalam pelukan hangat sang Bunda. Saat kita menangis dan merintih namun sama sekali belum dapat mengucap sepatahkata pun. Mungkin Bunda tersenyum hangat pada kita, haru melihat tingkah kita yang hanya dapat menangis dan menangis. Lalu beliau memberikan apa yang kita mau saat itu. Betapa cinta Bunda kepada kita amat dalam. Dan kebanyakan dari kita mungkin tak menyadarinya. Sungguh, suatu hari yang amat indah. Entah, telah berapa lama kisah kita terkubur (belasan atau bahkan puluhan tahun).

Suatu hari ketika kita menikmati hari pagi yang cerah, di sambut secangkir kopi hangat dari istri tercinta. Lalu duduk bersama dan bercengkrama tentang anak-anak kita. Pagi itu amat indah,- mentari yang terasa hangat, ada pula alunan musik ‘kalsik’ yang terdengar lembut di telinga kita. Sambil bercengrama, kita lihat tawa bahagia dari wajah-wajah lembut anak-anak kita.

Indah memang yang ada dalam benak kita. Tapi bukan berarti Tuhan dengan gampang akan memberikan semua itu. Paling tidak, di sana harus ada usaha. Apa pun itu, keras atau ringan usaha yang kita lakukan akan berpengaruh pada masa depan kita kelak. Dan jika Tuhan mengizinkan apa yang selama ini kita impikan tercapai, tetap simpan semua kisah yang menemani perjalanan kita.

Juli 26, 2008

Kembalikan semuanya!

Diarsipkan di bawah: My notes — Tag:, , , — Alfied @ 8:06 am

Aku menyadari sepenuhnya tentang diriku. Ini jujur dan aku benar-benar mengakuinya. Aku bukan manusia yang layak untuk dipuja, tak pantas untuk dielu-elukan. Bukan karena semua kebiadaban yang pernah ku perbuat, tapi ini murni karena ketidakpantasan yang sudah melekat dan tak dapat terelakkan dari diriku.
Aku sadar aku terlalu terobsesi untuk menjadi pusat perhatian. Ini salah, aku terlalu munafik dengan keadaanku.
Dalam kondisi itu, aku berusaha melupakan semua kelemahan yang ada pada diriku. Aku menghabiskan waktu hanya untuk mengasah kemampuanku, tanpa sedikitpun berpikir tentang kelemahan yang ada.
Dan semua itu justru membuat aku kehilangan semuanya. Bahkan kehilangan semangat hidupku. Aku terseret dalam jurang keraguan,-amat dalam. Aku kembali bimbang soal bagaimana kelanjutan hidupku. Aku tak dapat meski hanya sekedar menerka ‘kemana arah yang akan aku ambil?’.
Warna kehidupanku mulai memudar. Sesaat bahkan pernah terasa begitu hampa. Entah apa itu, tapi aku merasa ada yang hilang dari kesehariaanku.

Apakah yang hilang itu adalah ‘persahabatan’? Ataukah hal lain yang aku sendiri tak pernah dapat menerkanya. Tapi, apapun itu aku hanya dapat berharap. Semoga aku dapat mengembalikan warna hidupku, segera.
Karena aku tak ingin terpuruk lebih lama lagi. Aku harus bangkit. Harus!

Boyolali – July 26, 2008
[di saat kehampaan menguasaiku]

Penutup

Diarsipkan di bawah: My notes — Tag:, , — Alfied @ 5:57 am

Sekiranya apa yang aku lakukan ini dapat membawa kemaslahatan bg lebih banyak manusia, tentu semua itu adalah kebahagiaan tak terkira. Meski saat ini semua membenci, – atau bahkan mengutuk semua tentangku, aku rela. Kebahagiaanku adalah melihat orang-orang yang aku cintai meraih kebahagiaan. Walaupun aku harus menerima cacian dan makian, kehilangan semua pernak-pernik kehidupanku, atau bahkan menanggung semua sakit hati sendirian.
Ya, aku saat ini hanya dapat berpasrah pada waktu. Jika mereka tak segera tau maksud tindakan ku selama ini, biaralah tubuh ini terajam oleh lemparan caci maki. Biar perih, tapi aku cukup dapat merasakan kebahagiaan.
Dan sendainya mereka tau, aku hanya dapat berharap agar mereka tetap dalam kebahagiaan, walau mungkin tanpa adanya diriku.

Cukup saja aku mengadu semua perasaanku demi mereka, demi dia yang aku cintai. Biar aku sendirian saja menapaki semua kegelapan ini.
Jika dengan melukai diri sendiri akan membuat dia bahagia, aku akan teruskan semua sandiwara ini. Dan akan terus berkamuflase dalam sisi gelap diriku.
Aku akan terus menjaga semua cinta itu. Dan aku tak akan pernah mencabut kata-kata ku.

Selamat berbahagia, bagimu yang aku cinta.
Aku hanya manusia yang tak punya sejuta cara untuk memberikan semua kebahagiaan. Dan mungkin dengan semua manusia – atau bahkan dirimu membenci ku, akan ada taman baru yang tumbuh sebagai labuhan kebahagiaanmu.

Ucapkan selamat jalan bagiku. Sebelum ajal itu datang, biarlah kepergiaanku tak meluruhkan banyak air mata.

July 25, 2008

Juli 3, 2008

Sayang. . .

Diarsipkan di bawah: My notes — Tag: — Alfied @ 12:35 pm

Aku pengen ceritain sedikit tentang apa yang aku rasain saat ini. Belum lama ini aku udah ngerasa nyaman hidup sendiri. Hidup dalam dunia aku yang tak pernah lepas dari zona kenyamanan. Keluarga yang selalu nyayangin aku, kakak, adek, orang tua. Semua selalu ada buad aku. Tapi, emang fitrah manusia yang selalu ingin mendapatkan lebih, termasuk rasa ‘ingin disayangi’. Lama aku menutup hati aku untuk mendapatkan satu hal ini. Jujur, aku mulai tak sanggup.

Semoga suatu saat hingga aku benar-benar diijinkan untuk mendapatkan apa yang saat ini aku harapkan, Tuhan selalu menjaga aku dalam lindungannya. Semoga aku tak pernah mencoba kembali untuk melepaskan tali akidah yang selama ini menuntunku. Aku hanya berharap, semoga Tuhan memberikan yang terbaik untuk kehidupan umat-Nya.

Selalalu lindungi kami dalam Cinta Kasih-Mu, dalam pelukan Maghfirah dan Nur yang senatiasa Engkau pancarkan.

Buad someone yang selalu ada di hati aku. Semoga Tuhan selalu menjaga keutuhan hati kita, mempersatukanya kelak jika kita telah diijinkan. Dan selau percaya pada kekuatan-Nya, yang selalu memberikan apa yang selama ini kita butuhkan. Tetap jaga apa yang selama ini kita bangun bersama. Tetap percaya dengan keyakinan kita. Dan jadikan hidup kita selau selanglah lebih baik, dari saat ini.:-)

Blog pada WordPress.com.